A Bowl of Meatballs

  • Home
  • Story
  • Thoughts
  • About
  • Contact

CATEGORY >

Showing posts with label Story. Show all posts

     

2024 was quite a fast flash—at least that’s how it felt to me. I’m aware that I’ve tried my best and made progress, but as 2025 waves hello, I find myself grappling with a swirl of big, complex emotions. These feelings have been affecting me not just mentally but physically, too. The past 2 weeks transition to me was like juggling in a roller coaster, trying to deal with all the responsibilities and reality while dealing with myself, knowing that I'm too weak physically to be that hard to myself. I’ve been quite frightened by persistent negative voices in my head, again, telling me I’m not enough and blaming myself for it—and obviously, it freakin' sucks. 

So today, I decided it’s time to pull myself back together. I reached for my old journal, hoping to rediscover something that might help.

For those who live with depression, it can feel like a constant dark cloud hovering overhead, making even basic functioning seem impossible. My therapist once used a metaphor of a black cat and a white cat to help me make sense of this experience. During the darkest period of my depression in 2023, she challenged me to a seven-day journaling exercise to help regulate my thoughts and emotions. One of those entries from 21th June 2023 stood out to me today:



Reflecting on 2024, I realize it wasn’t as bad as it could have been. I wasn’t as suicidal anymore during the year (I was at some point, but I managed it slightly better, I think). I wasn’t hiding in my murky dark cave anymore; in fact, I slowly started connecting with people again. I began to feel good about myself and took better care of it this year. Comparing my face in a photo from January 2024 to one from November 2024, I can see that my face looks much more vibrant and alive. I am no longer the moving corpse I saw myself as back in 2023, so I guess my black cat has slimmed down quite significantly, which is a win worth celebrating.

The black cat is still here, of course, living quietly inside me, but it doesn’t consume all of me anymore. I know she might still purr in dark corners, but she doesn’t define who I am. I’ve learned to manage her better, to keep her from taking over.

So, I think I’m ready for 2025. I’m at least stronger now, as I’m learning to nurture the white cat within me—very slowly, indeed, but it’s worth celebrating. 

Here’s to a year of balance, hope, and continued progress. Here’s to the White Cat in me.
Happy New Year, dear everyone. 

Share on:

Saat mengetik judul tulisan ini pun, perut saya rasanya masih mules ga jelas geli-geli gugup ga percaya.

Yes, I surprisingly passed the test; The freakin’ scholarship I even hardly dream of. Alhamdulillah.

Hari itu, 16 September 2019

Sehari sebelumnya, saya masih di Bandara Sultan Syarif Kasim II Pekanbaru Riau bersama teman-teman lain yang baru saja menyelesaikan perjalanan 5 hari untuk kegiatan fellowship di Kuala Lumpur dan Dumai, Riau. Di ruang tunggu bandara, tepat setelah sholat shubuh, selah satu teman mengingatkan,
"Guys, kita nih masih dalam safar (perjalanan), pada doa, yuk mumpung masih di sini. Doa musafir 'tuh Insya Allah mustajab, loh". 
Well, you guys know exactly what I want to pray for. Saya langsung kepikiran lagi tentang pengumuman hasil tes LPDP besok. Saya pengen banget lulus (YAIYALAH DIL, SEMUA ORANG YANG IKUT TES JUGA MAU LULUS, KALIK!). Dalam hati yang pualiing dalam, saya cukup percaya diri dengan usaha saya sepanjang rangkaian tes kemarin. Rasanya kayak percaya diri aja, gitu. Tapi, rasanya suara-suara di dalam kepala saya teriak-teriak sambil noyor kepala sendiri, terus bilang:
"HUSH, jangan takabur, ngana Dil!".
Sudah sejak pasca tes wawancara sebenarnya saya mulai terganggu dengan suara-suara itu. Tapi sekuat tenaga selalu berusaha saya lawan. Saya sadar betul, bahwa saya sudah seharusnya siap gagal. Saya pasti sedih dengan hasil ketidaklulusan saya, tapi yang lebih pasti, itulah hasil yang terbaik. Sudah khatam berkali-kali gagal tiap tes wawancara, soalnya, ceu. he he he..
Btw ini ngetik sambil nginget-nginget rasanya jadi gugup lagi, cuy. 
Akhirnya saya bilang gini ke teman-teman;
"Guys, katanya kalo kita ngedoain orang lain, doanya Insya Allah mustajab. Mumpung kita semua masih safar jadi doanya makin mustajab, tolong doain besok aku dapat kabar baik, please."

Kembali ke hari pengumuman yang bikin perut saya berasa mules minta ampun lantaran terlalu gugup ga karuan. Saya masih ingat betul rasanya. Setelah seharian gelisah menunda mengecek hasil tes di situs resmi LPDP, ba’da maghrib Dina minta ditemani wifi-an di salah satu kafe tidak jauh dari kontrakan. Saya tidak bisa lupa, rasa kaget minta ampun bercampur bahagia yang sontak bikin saya teriak menepuk bahu Dina, 
setelah membaca tulisan:
“SELAMAT ANDA TELAH LULUS SELEKSI SUBSTANSI”


Kami berdua reflek menangis berpelukan saat itu. Segera saya foto bukti kelulusan tersebut dan mengirimnya via chat Whatsapp ke mama dan papa. Saya sungguh-sunguh tidak bisa lupa perasaan itu—waktu papa menelepon dengan isak tangis harunya. Belum pernah saya mendengar langsung sisi diri papa yang seperti ini. Tidak lama kemudian, terdengar juga suara tangisan mami (Baca: nenek ogut) yang katanya—ternyata awet hingga menjelang tengah malam. Lalu, Mama yang walau masih sok tegar, suaranya terdengar bergetar dan malah bikin saya tambah nangis. Tidak lama setelah itu, Mr. Koke—kakak kami tercinta menge-chat disusul Kaka Oryn (Kakak Ipar favorit kami). Setelah menge-chat beberapa sahabat terdekat, saya nangis lagi saat video call-an dengan Yaya. Seperti biasa, mention ucapan selamat di IG-Story lalu bermunculan satu per satu dari keluarga dan sahabat terdekat.

Tapi, satu hal penting di tengah euforia yang kami rasakan saat itu: saya belum sepenuhnya percaya bahwa saya lulus.

Keesokan harinya, saya bangun pagi dengan muka super bengong dan langsung membuka (lagi) situs resmi LPDP untuk mengecek ((lagi)) pengumuman tersebut.
Ini beneran kalo lulus tulisannya kayak gini?”, Batin saya, ckckck. Silakan anda tertawakan kepolosan saya, gapapa. Huhuhu
Menjelang siang hari, saya menge-chat salah satu sahabat, namanya Arafat a.ka Bocil—awardee LPDP tahun lalu. Saya kirim screenshot bukti kelulusan saya, untuk sekedar ‘membuktikan’ kebenarannya, LOL. Demi apapun saya masih belum percaya huhuhu.
Setelah ngobrol beberapa hal sekaligus berterimakasih atas konsultasi tentang LPDP dengan Pak Bocil, barulah saya agak lega. Tidak lama berselang, saya menerima email resmi dari LPDP berisi ucapan selamat dan beberapa penyampaian khusus untuk para calon penerima beasiswa. Saya betul-betul telah lulus seleksi substansi; tes tahap akhir di salah satu beasiswa paling bergengsi untuk anak negeri—LPDP. 

Yaampun saya lulus astagaaaaaaaa *sambil guling-guling*

Alhamdulillah, Allah baik sekali.

Satu hal yang sampai hari ini masih membuat saya takjub, adalah bahwa semasa kuliah, saya tidak pernah benar-benar berencana melanjutkan studi magister. Lebih-lebih melalui jalur beasiswa, apalagi dengan tujuan kampus luar negeri. Hoh, Napas dulu cuy. Ngos-ngosan ogut ngetiknya.
Tidak pernah—sampai akhirnya saya ke Kampung Inggris, Pare. Tempat bersahaja ini memang tidak akan bisa pernah lepas dari cerita tentang petualangan saya menemukan diri selama kurang lebih dua tahun ini. Bertemu sosok-sosok inspiratif dan belajar di tengah-tengah lingkungan yang sangat suportif di sana, adalah kesempatan yang sungguh tidak pantas dibilang murah. Kampung Inggris, Global English dan Keluarga besar TC 13—orang-orang di baliknya benar-benar telah membentuk saya.

Bukan apa-apa, menurut saya, semasa kuliah dulu saya bukan tipikal mahasiswa yang akademik-akademik banget. Jurusan HI memang pilihan saya sendiri, tapi keputusan ‘alih jalur’ untuk saya yang dulunya anak IPA yang cinta mampus sama Biologi ini ternyata tidak semudah yang dibayangkan. Memilih Jurusan HI sekedar karena menyukai isu-isu global, sepertinya tidak cukup untuk menjadi alasan saya berkembang secara optimal di kampus. Akibatnya, sebagaimana yang saya tulis di SINI, yaaa galau sendiri lantaran bingung mau ke mana setelah lulus kuliah.

Anyway, selama kuliah, saya beruntung berada di lingkungan yang mendukung. Setidaknya masih ada motivasi untuk selalu jaga-jaga, nilai jangan sampai jeblok. Beberapa diantaranya adalah mereka, sahabat telatan pancen oye yang selalu jadi partner diskusi mata kuliah—para bodat tercinta (Joa, Aat, Junet, Moza, Pakde Rolin). Makhluk-makhluk ajaib inilah yang selalu bantuin Dilla KRS-an online lantaran sinyal internet di Buol yang you-know-how. Selanjutnya, rekan-rekan tercinta di KOMAHI (Korps Mahasiswa Hubungan Internasional) UMY. Masa-masa kuliah Dilla bakal suram banget tanpa kalian. Lalu, senior-senior dan rekan-rekan KPMB-Y yang sejak awal selalu menyuntikkan semangat mereka. Orang-orang penting di luar keluarga saya—Kabahar, Yaya, Ingkong, Yanilong, Aldiceu, Shasa, Waty, Eving, Arya, Ewiceu, Depiceu, Cingku Yana, Didit, Kawawan, Arini, para Vagong tersayangku, Nanik, Pink, Rika, Jelly, dan mereka yang tidak bisa saya tulis satu per satu namanya di sini.. Apa jadinya Dilla tanpa kalian semua?
Eh, Ini kok malah jadi kayak pidato wisudawan terbaik yak? Wkwk. Ya maap, dulu cuma jadi wisudawan biasa-biasa aja soalnya. he he he.

Yaaa, begitulah ceritanya. Saya memang dulunya tidak pernah cukup percaya diri untuk berencana menyusul senior-senior awardee yang menurut saya hebat-hebat banget itu. Apalagi beasiswanya dari LPDP yang katanya, tesnya ribet dan susah banget.
Setelah kegalauan panjang—yang sempat saya tulis juga di SINI bulan April kemarin, akhirnya saya menemukan jawabannya. Setidaknya, papa juga melihat bahwa keputusan saya ke Pare, yang awalnya terang-terangan ditentang papa waktu itu memberikan jawabannya. Bahwa pengalaman saya berkali-kali gagal interview kerja sebelumnya, bahkan gagal jadi dokter seperti yang mama papa (dan saya) selalu cita-citakan (dari duluuuuu),  ternyata berarti satu hal yang sangat kami syukuri hari ini. Alhamdulillah...

You did well, Dil. You will do it even better. *hug myself* *guling-guling lagi*

Lulus LPDP adalah satu hal untuk disyukuri, tapi pelajaran-pelajaran penting di tengah petualangan menuju ke sini adalah jauh lebih berarti.

Oya, Ini sungguh belum ada apa-apanya. Petualangan yang jalannya masih 'sangat panjang' ini, sungguh baru saja dimulai. Tapi setidak-tidaknya, rasa putus asa yang seolah tidak ada ujungnya selama tahun-tahun terakhir ini, akhirnya memberikan jawabannya.

Tulisan ini untuk kalian semua. 
Yang tidak pernah pergi, yang selalu percaya.
xoxo.









Share on:

Banyak teman-teman yang selalu penasaran, tentang seberapa ‘antah-berantah’ kah Buol—kampung halamanku.

FYI, bahkan teman-teman sesama orang Sulawesi pun, masih banyak yang asing dengan nama Buol. Itulah Indonesia, kata lagu “Dari Sabang sampai Merauke”. Yaa, susah juga menghafal semua nama kota dan kabupaten di Indonesia yang kata om Google, ada 500an lebih wkwk. Aku kecil selalu protes dalam hati, setiap kali berkenalan dan melihat orang-orang mengerutkan keningnya saat kusebut "Buol". Dulu selalu ada perasaan minder ketika harus berinteraksi, apalagi berkompetisi dengan teman-teman dari daerah lain karena merasa dianggap ndak penting. Wkwk. Tapi yaaa lagi-lagi, itu lah Indonesia.

Untuk yang sudah terlalu nyaman dengan ramainya suasana kota, mungkin bakal bosan berlama-lama di Buol yang suasananya masih kampung sekali. Memang, tidak banyak yang bisa dilakukan di sini, tapi terlalu banyak. Hehe.

Jika butuh refreshing, misalnya. Tinggal ke kebun belakang rumah atau menyeberang jalan ke pantai. Kalau mau jalan sedikit ke desa sebelah, bisa mandi di sungai. Semua sudah disediakan alam. Menjelang sore, bisa ke lapangan desa, menonton anak-anak yang tengah bermain sepak bola atau permainan lokal, atau sekedar kejar-kejaran.

Tidak ada fasilitas hiburan modern di sini.
Mau nongki, warkopnya itu itu lagi.
Apalagi ‘ngemol’, jangan harap. Tidak akan kau temukan itu di sini, Ferguso.
Kalau ‘Mol-antai sambil makan pisang goreng dabu-dabu kacang’, itu baru ada. Wkwk.
Jangankan mal, Indomaret alfamart saja ndak ada.
Oya, di sini juga tidak bakal ditemukan akses wifi publik gratisan, kecuali nebeng tethering ke hp mama (Hayo, mangaku yang sering bagini) Hihihi.  
Well, Ini hanya sepotong kecil gambaran kehidupan kami di sini.

...Bagaimana, sudah bisa dibayangkan? Tapi tenang saja, Buol tidak seantah-berantah itu, kok. 
Jadi, nanti kita cerita (lagi) tentang hari ini—eh, tentang Buol kampung halamanku ini, maksudnya. Wkwk. Cheers!


Anak-anak di Lapangan Bongo yang kami (@bakursus_ dan @literasibuol) ajak belajar 'main-main' hari itu
Minggu, 15 Juni 2019
(Tenang~~ itu sedotan plastiknya dikumpulkan lagi, biar bisa dicuci-sikat terus dipakai buat game-game selanjutnya)
---

Is there anything you want to know more about it? comment below! 
Or Are you my Buol fellas? Share me something that I should write about Buol below!
↴↴↴



Share on:
Tulisan ini salah satunya terinspirasi dari video IGTV emak @bellarosaily yang sangat memotivasiku hari itu.

Sebelumnya aku harus memberi disclaimer bahwa bicara tentang topik ini, aku bukan ahli dalam hal psikologi yang secara teori membahas tentang masalah gejolak mental bla bla bla… hehehe 
tapi aku percaya, sedikit banyak pengalamanku dalam menghadapi fase quarter-life crisis di hidupku sendiri adalah sesuatu yang layak ditulis di sini, agar bisa menjadi referensi buat teman-teman semua, terutama yang saat ini tengah berada dalam fase yang sama. 

Disclaimer kedua adalah bahwa aku (yang sekarang) juga bukan orang yang sudah benar-benar matang secara mental. Aku yakin, aku nantinya bakal tetap merasakan naik turunnya motivasi, emosi yang tidak terkontrol dan hal-hal semacamnya, berjuang untuk bisa bijak menghadapi berbagai macam gejolak semacam itu. 
I am exactly still an imperfect human being who will still always need to struggle controlling my psychological and mental factor whenever I find some emotional issues in myself. 

Tentang Quarter-life Crisis
Ada yang baru baca istilah ini?
Bisa cari informasi lebih lanjut lewat Om 
Google, yaa hehe. Tapi secara umum, begini penjelasannya: 
Jadi sesuai namanya, fase ini kurang lebih terjadi di periode seperempat umur kita.
Rata-rata manusia hidup antara 70-100 tahun, berarti fase seperempatnya adalah di sekitar usia 20-an.
Kalau kamu sekarang berada di rentang umur ini, merasa dirundung galau luar biasa akibat hal-hal wajar 
seperti pilihan jurusan dan universitas, pekerjaan, jodoh, masa depan, belum lagi perkataan orang-orang yang tidak ada habisnya, bisa dikatakan kamu tengah memasuki masa-masa krisis di usia seperempat hidupmu.    


Di fase ini, rasanya hidupmu adalah yang paling tidak beruntung. Apalagi ketika scrolling timeline instagram, kemudian melihat kehidupan teman-temanmu yang rasanya sudah sangat jauh lebih bahagia dibanding kamu.
 
Kuliah di PTN idaman dengan jurusan favorit;
Pekerjaan yang linear dengan jurusan, di Instansi besar atau perusahaan terkenal;
Jodoh mapan dan kehidupan keluarga baru yang bikin baper;
Bisnis yang lancar dan ramai peminat;

Kehidupan yang bebas tanpa berbagai tuntutan lingkungan...
...dan masih banyak lagi potret standar kehidupan ideal yang rasanya makin mengkerdilkan posisi kamu di rentang umur yang memang sangat rentan ini.

Pemicunya? Banyak. Ada faktor biologis, lingkungan, dan tentunya juga psikologis. Tapi, yang paling penting menurutku adalah trigger yang datangnya dari segi mental, karena pada umumnya ini dibuat-buat oleh diri kita sendiri. 

Weh, gimana tuh? 

Jadi be
gini, kalau kata orang bijak, “Hidup itu pilihan”, sama juga dengan kasus ini.
At the end of the day, kita sendiri-lah yang memutuskan, mau pilih untuk terus berlarut-larut dalam sulitnya fase itu, atau berusaha keluar dari lingkarannya. Wadaw, udah macam Om Mario Teguh aja yakan ane. Hahahaha

Tapi ini serius, guys.

My very own experience on struggling with my quarter-life crisis:
Kalau kamu pembaca setia blog ini, pasti sudah sempat baca tulisanku tentang Hijrah dan Zona Nyaman (Kalau belum baca, silakan klik disini)
Di tulisan itu, kurang lebih bisa dilihat salah satu bagian penting dari fase quarter-life crisis ku. Tapi singkatnya, Aku akhirnya menemukan turning point berani mengatakan bahwa I’ve passed that freakin’ crisis adalah di Bulan Maret ini, setelah umurku tepat 24 tahun.

Setelah harus dirawat karena terserang DBD selama seminggu (Silakan baca ceritanya di sini), seminggu kemudian aku masih berjuang dengan pikiran-pikiran liar yang rasanya justru semakin mengecilkan diriku sendiri. Aku kehilangan percaya diri, dan bahkan merasa tidak punya motivasi untuk melanjutkan masa depan. 
Wajar sih, aku yang biasanya dipenuhi aktivitas dari pagi sampai malam dan selama bertahun-tahun alhamdulillah belum bernah sakit keras, tiba-tiba harus mendekam seminggu di Rumah Sakit, tidak bisa melakukan apa-apa dan justru merepotkan orang-orang disekitarku. Setelah akhirnya selesai opname, aku merasa diriku begitu menyedihkan dan sangat tidak berguna untuk semua orang

“Apa yang sudah kamu kasih ke orang tuamu di umur segini?”
“apa kamu sudah cukup berguna buat orang-orang di sekitarmu?”
“mau jadi apa kamu nanti?”
“coba liat, teman-temanmu di umur segini sudah punya kehidupan yang mapan!”
“bayangkan apa kata orang-orang tentang kamu yang hidupnya gini-gini aja!”


Pertanyaan-pertanyaan yang terus membombardir di kepalaku kurang lebih selama  2 minggu itu, membuatku seperti mayat hidup.  Demi apapun, waktu itu aku hidup dengan sangat ga jelas. Fisikku yang masih sangat lemah, jadi makin payah lagi gara-gara otakku yang tidak berhenti dengan pikiran-pikiran yang jauh lebih ga jelas. 

Sempat curhat ke beberapa sahabat, kemudian kudapat beberapa solusi yang menurutku sangat membantuku saat itu. Salah satu sahabat mengirimkan video motivasi (hehe, bisa dibayangkan, se-menyedihkan apa aku saat itu?), kemudian kuingat beberapa kalimat mereka:

"Baca quran dil"
"Coba tahajud, rutin seminggu. Bukan untuk minta sesuatu, tapi biar bisa lebih tenang".
"Istirahatkan pikiranmu. Kamu kebanyakan mikir. Coba cari cara refreshing".
"Kamu punya hobi apa? Coba lakukan hobimu tanpa mikir apa-apa yang bisa membebani kamu".
"Sekali-kali kita butuh lupa sama hal yang serius. Kamu orangnya terlalu pemikir".
"Kamu butuh tantangan baru. Posisi yang sekarang mulai nyaman. Gimana kalo kamu pulang dulu? Tinggalkan Pare, keluar dari zona nyaman. Lagipula kamu masih butuh recovery"

Kalimat-kalimat itu terasa nyelekit, karena benar adanya. Tapi aku aku sadar, mereka sangat menguatkanku.
Guys, if you're reading this, I really want to say that I'm so grateful having such really good friends like y'all. I really mean it.

Sampai akhirnya, pagi ini tiba. Tepat 2 minggu sejak hari pertama aku sakit, aku jogging dengan salah satu sahabat. Kemudian entah mengapa dan dari mana datangnya, aku seperti menemukan ilham. 
This morning, I finally gained my spirit back. 

Aku akhirnya tahu, apa yang akan aku lakukan untuk hidupku. Masa depanku.
I'm sure, I never been this excited. Ever. Even I was shaking while crying yet smiling, thinking that I’ve got what I really want to do.
 
Mungkin aku sudah menemukan jati diri. Entahlah apa namanya ini.
Rasanya banyak sekali yang ada di kepalaku,tapi aku justru sangat bahagia dan ingin segera menuliskannya satu per satu agar tidak lupa. Aku sudah punya rencana apa yang akan kulakukan untuk seminggu, sebulan, setahun, bahkan beberapa tahun ke depan dan rasanya sangat sangat rinci. Anehnya, aku seperti orang jatuh cinta, senyam-senyum sendiri seperti rasanya ingin cepat-cepat menyambut besok, lusa, dan seterusnya agar aku bisa segera melakukan semua rencana itu. Luar biasanya, Aku tidak takut gagal sama sekali. Aku tidak khawatir orang-orang akan menilaiku seperti apa dengan pillihan yang akan kuambil. Aku merasa penuh motivasi.
Allah itu memang baik banget, guys. Baiiiiik banget.
OMG I can’t stop crying while writing this out. 


I hope you guys can see how blessed I feel I am through reading this huhuhu I don't know how to exactly depict it in this post.

Hari ini, ku telepon Mama, Tante yanti, Papa, Dina, sahabatku Pink, kuceritakan semuanya dan rasanya itupun belum cukup untuk mengungkapkan betapa excited nya aku. Ku tuliskan juga rencana-rencanaku itu, termasuk tulisan ini. Itupun masih belum cukup karena rasanya banyaaak sekali yang ada disini!!! *nunjuk kepala*

Aktivitas hari ini sama seperti hari-hari biasa, tapi terasa sangat luar biasa. Aku masih senyam-senyum sendiri sambil terus gemetaran, dan kadang berkaca-kaca saking bahagianya. 
Again, I can confidently say that I’ve passed that FREAKIN’ period of life!

Jadi gimana caranya?
Intinya, tidak ada yang instan, termasuk proses kita melewati fase ini. Di kasusku, proses yang kulewati juga tidak terjadi hanya pada saat aku diberi rejeki sakit kemarin. Semua keputusan yang telah aku buat, termasuk masalah-masalah yang sempat kutemui selama ini, terutama setahun ke belakang saat aku mulai bisa berdamai dengan diri sendiri adalah bagian dari prosesnya.

So these are the points (that may seem cliche but) really worked on me. Here we go:
1. Kenali sindromnya. Ketahui kapan kamu mulai merasa bahwa ada yang tidak wajar yang kamu lakukan dalam menyikapi segala sesuatu di kehidupanmu. Misal ketika kamu memutuskan untuk menge-mute Instagram story seorang teman karena merasa tersudutkan setiap kali melihat postingannya. Fyi, aku pernah melakukan ini karena menghindari sirik dan minder dengan kehidupan sahabat dekatku, hehe. Ada yang kayak gini juga? 
Sekarang, tentu aku sudah insaf wkwk. Justru bahagia rasanya melihat hasil dari usaha mereka, akhirnya mulai berbuah manis dengan pekerjaan yang mapan, keluarga harmonis, dan lain sebagainya. 

2. Keluar dari zona nyaman. Menurutku, sering-sering memaksa diri kita untuk mencari tantangan baru adalah usaha untuk hidup lebih bahagia. Tantangan baru dengan orang-orang baru, selalu memberikan hikmah dan pelajaran baru yang bisa kuambil dan kujadikan bahan evaluasi untuk diriku sendiri. Hasilnya adalah diriku yang bisa lebih mudah bersyukur. 

3. Nikmati proses. Salah seorang kenalanku pernah bilang "Bahkan mie instan pun butuh proses". Jadi kita 
memang harus sabar. Akan ada saatnya kita bakal merasa bodo amat dengan segala macam omongan orang, akan tiba waktunya kita menikmati efek dari usaha kita dalam menghadapi efek dari krisis ini.


4. Kenali diri lebih dalam. Karena aku tipikal orang yang hobi mikir dan cenderung pelupa, Aku suka menulis apapun yang terlintas di benakku. Kemudian aku sadar, bahwa menulis adalah salah satu terapi terbaik. Aku dapat mengevaluasi diriku sendiri dengan membaca apa yang sudah kutulis sebelumnya. Apalagi, menulis adalah salah satu hobiku. Jadi, dengan melakukan sesuatu yang kusenangi, ternyata aku bisa semakin mengenali diriku sendiri. Kalau kamu kurang suka menulis, coba temukan cara lain yang lebih cocok. Jangan lupa, termasuk proses dalam menemukan caranya pun tidak instan.

5. Berdamai dengan diri sendiri. Kalau kita sudah berusaha mengenali diri lebih dalam, mulailah mencoba berdamai dengan diri sendiri. Di kasusku, poin yang satu ini sangat-sangat tidak mudah. Bertahun-tahun aku menyalahkan diri sendiri dan merasa insecure karena ekspetasi tinggi orang-orang disekitarku, dengan aku yang tidak bisa meraih cita-cita menjadi dokter duluuu sekali. Hehe.

Aku bahkan sempat terlibat konflik dengan papa selama kurang lebih sebulan. Aku paham, perasaan papa yang benar-benar ingin anaknya meraih apa yang memang dicita-citakan. Tapi saat itu aku juga benar-benar down. Jadilah aku dan papa perang panas-dingin di rumah sampai akhirnya aku kembali ke perantauan, dan kami menangis sejadi-jadinya menyesali sikap yang terlalu emosional. Saat itu aku sadar bahwa papa sesayang ituuuu ke anaknya iniiii. Huaa. I'm cryin right now guys. Papa, Insya Allah Dilla tidak mo kase kecewa papa. (I wish my dad can read this).
Saat ini, aku benar-benar telah move on dan semakin memahami esensi usaha, doa, juga takdir. Aku telah berdamai dengan diriku sendiri.

6. Berhenti membandingkan diri dengan orang lain. Aku sangat merasakan bahwa poin ini adalah salah satu koentji yang membantuku terbebas dari quarter-life crisis. he he he. Aku sempat melakukan aksi "Diet Sosmed" selama kurang lebih 3 bulan sebagai terapi untuk berhenti minder dan membandingkan diri sendiri dengan orang lain, apalagi mendengarkan komen-komen jahat orang-orang di sekitarku. Tips yang satu ini wajib di coba menurutku. hehe.

7. Temukan passion. Ini adalah salah satu yang paling sulit menurutku. Butuh waktu sekitar 2 tahun buatku untuk menemukan bahwa aku adalah tipikal orang yang cenderung akan lebih stress ketika bekerja di lingkungan kantor, dibanding ketika aku bekerja mobile di lapangan. Aku lebih menikmati pekerjaan yang mengharuskanku bertemu dengan lebih banyak orang yang berbeda setiap waktu dan berinteraksi lebih banyak dengan mereka, melakukan hal yang lebih fleksibel. Salah satu cara menemukan passion menurutku adalah dengan cara re-consider:

What is your goal? What kind of occupation that you would do the whole of ur life, even without getting paid? What makes you happy?

Yang perlu diingat perihal ini adalah, bagaimana kita bisa menemukan NIAT BAIK dan TUJUAN yang JELAS untuk hidup kita hingga maut menjemput nantinya. (Wadaaaw berat kali kata-kata ane)

8. Libatkan Allah. Aku beruntung berada di lingkungan di mana selalu ada yang mengingatkanku tentang Allah, setiap kali aku merasa galau luar biasa. Poin yang satu ini sangat sederhana, dan klise, tapi sangat terasa efeknya. Ketika hidup rasanya suliiit, mencoba berkomunikasi dengan yang ngatur kehidupan ini adalah pelarian yang paling tepat. Coba introspeksi, mungkin sholat kita masih kurang bener, kayaknya kita baca Qurannya masih kurang paham makna, atau sepertinya kita butuh lebih banyak bersedekah. Sering-sering minta ampun dan berdoa ke Dzat yang menciptakan kita, adalah terapi paling efektif menurutku.

Sekian dulu tulisan kali ini, maaf kalo bacanya bikin pegel. Selamat, anda telah membaca postingan saya yang totally terdiri dari 2051 kata! WOW!
Satu hal kecil yang patut disyukuri hari ini, kan! he he
I hope you can find some positive energies that I tried to give through this article. No matter how hard it is, I believe you guys can pass this crisis :)
Semoga berhasil! 

Anyway, would be so glad if you guys kindly share your own story through this comment section below. 
Aku penasaran dengan cerita quarter-life crisis kalian. Cerita dari kamu yang tengah berjuang, atau mungkin kamu yang juga sudah berhasil melewati fase ini.
Kalau kamu coba terapkan poin-poin di atas, aku juga penasaran dengan pengalaman unikmu.
silakan share ceritamu di bawah, ya!
Cheer up!
Share on:
I jumped out of my bed yesterday morning and thought it was March 12th already. It's now the date, but I'm now feeling there are no such significant changes about myself compared to yesterday. Today, on the day when I was born, exactly 24 years ago, I am still exactly what I was.

Then I took myself back to the same day, back then a year ago, to see myself on my 23rd birthday when I made one of the biggest decisions in my life: moving away from the very-comfortable-zone city, Yogyakarta. I still remember how hard I cried that day thinking I'm not gonna see myself waking up every day enjoying the city which so many people fall in love with. I was freaking and wondering how much difficult it would be to live in a brand new surrounding with daily activities which obviously different from my comfort zone before, yet I knew it had been one of the things that I'm always passionate with. And so I got myself brought back even further before it, the latest-22-me, the toughest period of my quarter life's crisis and remembered how broken I was back then.

I was in deep thought while preparing myself to start my daily activity until finally, I stopped when I saw myself's reflection—in a broken mirror.
* * *
I suddenly got my eyes blurred as with my tears.
I'm not as broken as that mirror--any longer. I'm now very different from myself, a year ago.
​Now I know what I want, I feel grateful that I can do something I'm passionate with, and most importantly, I can consider myself as someone that can be a beneficial one for my surrounding. No, I know this is not the end, I'm still craving for more as I know what I have been doing until now is just a form of a beginning. I have to stick on this kind of feeling. I have to do more.

Today is totally not the year-by-year birthday I usually get every single year. There are nothing such actually planned birthday surprises with the birthday songs completed with the cake and gifts as I have always been getting into the whole of my life. Nothing but the simplicity, with a heart filled with love from everywhere around me.

Again, I'm so proud of myself that I'm now (finally) at peace with myself and accepting 'me' more than ever. Apart from the selfishness or self-centered-character, I'm so grateful of myself with everything I am now.

​Alhamdulillah, praise to Allah.


Few words of love recorded:


















Share on:

Today, I got reminded (again) that I obviously can be gone anytime.
Certainly, without any notices
As if the full of happiness Sunday that is easily gone and changed by the very grumpy Monday.
There's absolutely no one can stave it off, let alone myself.


Today, I wondered (again), how will I be remembered.
Share on:
Seorang wanita terbaring lemah di kasur busa berukuran single, di kamar kos standard dengan ukuran 3x4 meter, tempat tinggalnya.

Terdapat televisi tabung di atas meja kecitepat di sebelah kanan kasur, sedang menayangkan talkshow hipnotis yang terkenal dari salah satu Stasiun TV nasional. Tidak ada buku di meja kecil dengan beberapa rak itu, hanya ada beberapa benda yang tidak tertata: gunting, gunting kuku, sisir, sebungkus rokok yang isinya kira-kira tidak cukup setengahnya, beberapa nota pembelian, kwitansi pembayaran kamar kos tiga bulan terakhir dan uang kertas juga koin-koin yang berserakan, bungkus nasi goreng telur kemarin malam yang belum sempat dibuang, serta barang-barang kecil lainnya.

Di seberang kasur, tepat di hadapan telapak kakinya, diletakkan sebuah lemari berpintu dua yang tingginya kira-kira tingginya sedagunya. Isi lemarinya, tentu saja acak-acakan.

Sementara itu, di bagian kasurnya, seperti yang sudah bisa dibayangkan. Beberapa pakaian bekas pakai, obat-obat yang sudah keluar dari plastiknya, remote tv, telepon pintar Samsung produksi tahun 2012an, sarung bermotif kotak-kotak warna biru yang buluk, juga sepasang bantal dan guling. Semuanya tergeletak tidak beraturan.
Tidak banyak yang yang bisa di deskripsikan dari keadaan kamarnya dengan perabotan super minimalis-tapi-berantakan itu.

Sedikit bergeser ke bagian agak dalam kamar, sepetak kamar mandi kecil seukuran 1.5x1.5 meter bersebelahan dengan dapur kecil pribadi berukuran sama. Kamar mandi yang tidak rutin dibersihkan itu pengap sekali, hanya ada satu lubang persegi yang dibagi lagi menjadi empat lubang seukuran tiga jari, sebagai tempat sirkulasi udara.
Di dapur mininya, hanya ada kira-kira tiga piring dan dua mangkuk, kemudian setumpuk sendok dan 3 gelas plastik di satu baskom berukuran sedang, dalam keadaan kering. Sepertinya minggu lalu terakhir kalinya dia mencuci perabot dapur. Lalu terdapat beberapa sachet kopi hitam instant dan mie instant, persediaan dapur anak kos pada umumnya, dalam versi lebih minimalis. Yang paling mencolok adalah satu kompor minyak tanah jadul berukuran kecil dengan wajan ukuran sedang berisi seperempat sisa rebusan air tempo hari.

Wanita berusia 30-an itu hidup sendiri, belum bersuami.

Sudah lebih dari dua minggu dia terpaksa minta izin dari tempat kerjanya—swalayan milik teman sebangkunya semasa SMA, sebab tengah sakit keras. “Gangguan jantung kronik akibat psikosomatis”, begitu kata dokter waktu dia berobat ke salah satu rumah sakit umum di kota kecil itu.

***
Tiga hari berselang, wanita itu masih terbaring di kasur dengan posisi yang sama.

​Seorang perempuan paruh baya, ibunya—tiba-tiba mendobrak pintu yang ternyata tidak terkunci dengan wajah pucat. Semalam ibunya bermimpi aneh, tidak ada siapa-siapa selain bayangan anaknya—wanita itu—dan suara-suara yang tidak kalah aneh:

“Katanya dia pencuri, gausah temenan sama dia”,
“Katanya dia sombong loh, mending jangan deket-deket dia deh”,
“Katanya hidup di sana ga enak, apa-apa susah”,
“Katanya sekolah di situ sulit, udah mahal, seniornya kejam”,
“Katanya tetangga kita galak, lebih baik jangan ngomong sama mereka”,
“Katanya ayahmu malu denganmu, kamu sudah dewasa, harusnya jadi orang sukses”,
“Katanya kerjaan yang itu susah, seleksinya aja berlapis-lapis”,
“Katanya kamu diomongin tetangga, tidak apa-apa kerja seadanya, daripada jadi pengangguran”,
“Katanya dia jahat”,
“Katanya dia bau”,
“Katanya produk itu bahaya”,
“Katanya barang di toko itu mahal”,
“Katanya makanan di situ gaenak”,
“Katanya ini...”
“Katanya itu...”
“Katanya...”

***
Katanya, wanita itu telah tiada sejak dua hari yang lalu...

#30haribercerita #30hbc1902 @30haribercerita

Share on:



Location: Kene Coffee House, Condongcatur, Yogyakarta


Hari sabtu sore, sudah hampir tiba penghujung tahun.

Di salah satu kedai kopi yang damai di tengah (semakin sesaknya) keramaian kota gudeg, hari ini aku bertemu sahabat-sahabatku.
Kedai kopi “Kene” berdesain modern, dengan detail susunan tanaman-tanaman hijau di antara rak-rak kayu dan dinding-dinding serta pintu kacanya, terasa sangat nyaman di sore hari. Semburat senja begitu cantiknya, kami nikmati dari salah satu pojok kedai ini. Kupesan Iced Kene Irish Coffee yang semakin sempurna ditemani playlist indie yang mereka mainkan melalui Harman-kardon dengan setelan volume standard.

Sudah lama kami tidak ngopi seperti ini, dengan obrolan khas yang rasanya semakin berat—seberat beban hidup kami yang kian bertambah seiring menuanya usia di kota ini (hahaha).

Kami berempat, bergantian menceritakan pengalaman masing-masing selama kurang-lebih setahun ini, tentang betapa beratnya fase kehidupan yang kami hadapi di rentang usia ini. Saling mendengarkan dan memberi sugesti menguatkan. “Ini terapi konseling kelompok, semoga berefek positif buat mental kita”, begitu kata salah satu sahabatku dengan gayanya yang jenaka, mencoba mencairkan suasana seperti biasa.

Lagi, aku belajar banyak hari ini dari cerita-cerita mereka:

SATU—Sejak lulus kuliah bulan Juli kemarin, dia sudah berkali-kali gagal di banyak lamaran kerja perusahaan, yang hampir seluruhnya gagal di tahap akhir tes (re: interview user). Mulai dari sebab-sebab yang masuk akal—karena dia yang saat itu memang belum sesuai dengan apa yang tengah mereka cari, hingga alasan-alasan konyol seperti background almamater, menjadi beberapa faktor kenapa sampai hari ini dia masih harus berjuang sebagai jobseeker. Dia bercerita, bagaimana lingkungannya yang terlalu berekspetasi tinggi kepadanya, menjadi beban baginya. Hingga tempo hari, di percakapan telepon dengan papanya, saat tengah mencurahkan segala kegalauan perihal perjuangan joobseeking yang melelahkan, dia diminta mencari uang Rp50.000 di dalam tas. Tanpa bertanya, dicarinya uang itu, tetapi ternyata tidak ada. “Cuma ada pulpen, buku, dan alat tulis lain di sini, pa”, katanya. “Begitulah hidup, nak. Seringkali apa yang telah kita usahakan, berbeda dengan kehendak-Nya. Maka berkhusnuzon lah kepada-Nya”. Kuingat diriku yang sama kurang-lebih setahun yang lalu, saat tengah merasakan kebimbangan yang sama dengannya. Kulihat mata-mata mereka satu persatu saat dia mengakhiri ceritanya. Aku pun merasakannya, mataku menghangat; kami semua berkaca-kaca. Orang tua adalah yang paling paham anaknya, tentu saja.

DUA—Sebulan lebih sedikit lagi dia wisuda. Masih begitu menggebu-gebunya dia menceritakan pengalaman magangnya sebulan kemarin di negeri seberang. Kemudian dia bertanya, “Bagaimana caranya biar Aku yakin dengan rencanaku selanjutnya setelah lulus nanti? Mama ingin aku lanjut kuliah lagi, tapi papa maunya aku langsung mulai melamar kerja”. Kujawab, “coba istikharah”, karena sesungguhnya hanya dia yang tahu, mana yang benar-benar dia ingin dan butuhkan. Perihal biaya kuliah yang memang tidak sedikit nantinya, atau waktu untuk melanjutkan kuliah yang kurang pasti jika dia langsung bekerja, bisa dia diskusikan pelan-pelan dengan papa mamanya. Air matanya menetes tiba-tiba. “Komunikasi dengan papa akhir-akhir ini buruk sekali, sudah lama sejak terakhir kali kami terlibat pembicaraan yang berkualitas menurutku, bahkan untuk berharap papa datang ke upacara wisuda pun, aku tidak yakin. Mama selalu terdengar berusaha membuatku berpikir positif, untuk bisa memaklumi. Tapi aku juga benar-benar sedang butuh didengarkan”, Aku hanya bisa merangkulnya saat itu. Aku sangat memahaminya. Untuk bisa (akhirnya) berkomunikasi dengan orang tua (dengan sangat lumayan) seperti sekarang, sepengalamanku, juga butuh waktu yang panjang. Memang penuh drama warna warni, tapi pasti bisa. Orang tua pada akhirnya akan mengerti.

TIGA—Sejak tiba dan memesan kopinya, dia tidak banyak bicara. Tetapi setelah sahabatku tadi bercerita tentang orang tuanya, dan kami bertanya, “Bagaimana denganmu?”, dia tiba-tiba menangis dan hanya menjawab, “kalian semua sama”. Kami tidak bertanya lebih lanjut mengapa dia tiba-tiba terisak saat itu. Sahabatku yang satu ini memang cenderung keras, tidak jarang, dia terlalu keras pada dirinya sendiri. Sepertinya ini diturunkan dari ibunya yang sangat keras. Itulah mengapa tuntutan orang tua dan beban pikiran dari diri sendiri, dihadapkan dengan (lagi-lagi) masalah komunikasi dalam keluarga, pastinya sangat berat baginya.

Hidup di fase ini ternyata jauh lebih rumit dari yang pernah kubayangkan dulu, waktu aku masih sering bermimpi untuk kembali ke masa kanak-kanak dengan segala keseruannya.

Menjadi dewasa memang sulit.
Share on:
Perjalanan selalu berhasil membawaku pergi. 
Jauh, melampaui navigasi sang pengemudi. 

Dari balik jok kusir persneling yang membawaku meninggalkan desa, meninggalkan ayah dan ibu tersayang. 
Lalu di perut burung besi yang membawaku menyeberang ke negeri orang di pulau seberang. 
Kemudian pada salah satu celah delman raksasa antar kota yang dengan garang melaju, membawaku dari ramahnya kota keraton kepada culasnya ibukota yang garang.
Juga di antara desing lokomotif di salah satu sudut gerbong di senja hari, di perjalanan menuju hiruk pikuk kota untuk petualangan selanjutnya. 

Dengan andil latar musik nan syahdu dari telepon seluler lewat tali tembaganya yang menyumbat kedua telinga, Aku dibawa pergi semakin jauh. 

Jauh, menuju berbagai khayalan terliar di dalam diri. 
Seringkali perjalanan-perjalanan itu menenangkan, melegakan hati. 
Namun akhir-akhir ini menjadi kontemplasi yang berat. Terasa sulit, rasanya menyesakkan sekali. 

​Tapi,
Aku tahu, aku tidak akan berhenti.

-Dibuat kembali, dari Oktober 2017
Share on:
فَإِذَا قُضِيَتِ الصَّلاةُ فَانْتَشِرُوا فِي الأرْضِ وَابْتَغُوا مِنْ فَضْلِ اللَّهِ وَاذْكُرُوا اللَّهَ كَثِيرًا لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ (١٠)
“Apabila telah ditunaikan shalat, Maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung.” (QS. Jumu’ah: 10)

إِنَّ الَّذِينَ تَوَفَّاهُمُ الْمَلَائِكَةُ ظَالِمِي أَنفُسِهِمْ قَالُوا فِيمَ كُنتُمْ ۖ قَالُوا كُنَّا مُسْتَضْعَفِينَ فِي الْأَرْضِ ۚ قَالُوا أَلَمْ تَكُنْ أَرْضُ اللَّهِ وَاسِعَةً فَتُهَاجِرُوا فِيهَا ۚ فَأُولَٰئِكَ مَأْوَاهُمْ جَهَنَّمُ ۖوَسَاءَتْ مَصِيرًا
Sesungguhnya orang-orang yang diwafatkan malaikat dalam keadaan menganiaya diri sendiri, (kepada mereka) malaikat bertanya : “Dalam keadaan bagaimana kamu ini?.” Mereka menjawab: “Adalah kami orang-orang yang tertindas di negeri (Mekah).” Para malaikat berkata: “Bukankah bumi Allah itu luas, sehingga kamu dapat berhijrah di bumi itu?.” Orang-orang itu tempatnya neraka Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali. [An Nisaa’ (4): 97]

Hari ini Aku resmi pindahan. Rumah kontrakanku selama kurang lebih setahun ini akhirnya kami tinggalkan. Lebih tepatnya, mereka (Adik-adikku) tinggalkan. Mereka akhirnya pindah ke tempat yang baru, tanpa Aku yang sudah lebih dulu meninggalkan Jogja sebulan yang lalu.
Saat ini, sudah hampir dua bulan Aku tinggal di Pare. 12 Maret lalu tepat di hari ulangtahunku, Jogja (akhirnya) kutinggalkan. “Rasanya geli-geli lyke butterfly in stomach went Knock-knock begitu kaan?”, begitu kata Aulia (I really need to write about this girl later. I miss her so much!) hari itu. Aku penasaran tentang bagaimana nantinya hari-hariku yang baru di sini, I was really excited about it, yet I was crying so hard at that day. Jogja memang se-nyaman itu bagiku. Bahkan hari ini, ketika mereka pindahan, aku masih se-mellow ini!

Anyways, seperti judulnya, tulisan kali ini sebenarnya adalah tentang curhatan seorang freshgraduate yang hampir ga fresh lagi, LOL. FYI, Aku lulus kuliah pada akhir Bulan Juli tahun lalu, jadi silakan dihitung sendiri he he he.
Akhir-akhir ini—terutama setelah lulus kuliah, Aku selalu dihantui kalimat “keluar dari zona nyaman”. Kita semua bukannya tidak tahu atau tidak paham, hanya saja kebanyakan tidak mau benar-benar melakukannya. Padahal kita perlu . Melihat kebiasan diri sendiri dan orang-orang di sekitarku, beberapa hal-hal sederhana yang seringkali melintas dibenakku misalnya:
Kalau biasanya mainnya ke mall dan cafe, kenapa tidak sekali-kali pergi ke tempat yang jarang dikunjungi, tapi lebih berfaedah, museum misalnya?
Kalau biasanya mainnya sama si itu itu aja, kenapa tidak ikut komunitas (yang positif) dan berteman dengan orang-orang baru?
Kalau biasanya keramaian terasa tidak nyaman, kenapa tidak coba dilawan dengan pergi ke tempat-tempat ramai, festival/pameran seni, misalnya?
Kalau biasanya scrolling sosmed terlalu nyaman dan menyita waktu, kenapa tidak sekali-kali logout agar terbebas sejenak dari ratusan notifikasi yang mengganggu interaksi yang sebenarnya dengan orang-orang di sekitar?
Kenapa tidak coba keluar dari zona nyaman?

Kata orang-orang, kehidupan setelah lulus kuliah adalah pintu menuju kehidupan yang sebenarnya. 
Mungkin, antara masa-masa berkuliah dengan segala kesibukannya dan kehidupan semester akhir yang melelahkan membuatku 'keenakan' setelah lulus. Seakan-akan akhirnya aku bisa beristirahat, leha-leha, selo dari jadwal yang padat. No more rapat tengah malam, no more deadline skripsi dan segala embel-embelnya. Seperti balas dendam pasca kelulusan; seperti buka puasa yang kekenyangan sampai-sampai sholat magribnya kesusahan. Karena memang seharusnya, ada banyak pelajaran yang bisa Aku dapat, kalau setidaknya Aku lebih berani keluar dari zona nyamanku saat itu.
Selama kurang-lebih 6 bulanan setelah lulus kuliah, Aku sempat bolak balik Jogja-Ibukota selama beberapa bulan untuk wawancara kerja. Dari semua proses itu Alhamdulillah Aku selalu gagal di setiap tahapan tes terakhir. Awalnya Aku biasa saja, gagal mah wajar, itu bagian dari proses, cuy. tetep semangat aja. Sampai akhirnya Aku tiba di fase "capek". Aku masih ingat, saat itu aku baru pulang dari salah satu wawancara kerja, and i found myself desperately lose all my confidence. Aku telepon mama sambil menangis, mama mengerti bagaimana perasaanku saat itu. Kata mama, “banyak kok yang dapat kerja baru beberapa tahun setelah lulus. Kebetulan aja teman-teman dekat Dilla pada mau langsung kerja”. Saat itu, aku benar-benar merasa “capek”. Aku mau berhenti dulu, istirahat, merenung--mungkin lebih tepatnya, menikmati masa-masa menjadi pengangguran yang sebenarnya. Padahal kalau dipikir-pikir, sebelum itu juga sama saja. Kalau dihitung-hitung, rasanya saat itu aku hanya baru wawancara di 3-4 instansi saja, karena memang masih pilih-pilih mau melamar di mana. 
Jadinya, hari-hariku setelah itu kuhabiskan dengan sepanjang hari di rumah (kontrakan), malas-malasan di kamar, dan seterusnya. Saat itu orang-orang di sekitarku sepertinya sempat menganggapku stress, lol. Fyi, Papa-Mama dari dulu bilang "Setelah lulus Dilla gausah langsung pulang rumah dulu. Di Jawa saja, cari apa yang Dilla mau, biar dekat adek-adek juga sambil jagain mereka". Tapi waktu itu sempat bahkan menyuruhku pulang. Hmm, sepertinya aku sangat terlihat frustrasi saat itu. Entahlah. Sejujurny aku memang tidak benar-benar menikmatinya. 

Well, saat itu aku benar-benar merenung. Apa sebenarnya yang salah dariku. Apa mungkin Aku belum benar-benar memilih untuk langsung bekerja, makanya Aku selalu kurang maksimal di setiap tes yang aku ikuti? Atau mungkin melamar kerja di instansi pemerintahan itu bukan tujuanku yang sebenarnya, hanya karena Papa yang ingin sekali anaknya yang lulusan HI ini kerja di sana. Jadi, apa yang sebenarnya Aku mau? Kuliah lagi? Mungkin iya, tapi aku juga sepertinya tidak begitu percaya diri, lebih-lebih untuk saat ini. Nikah? Oh well, tentang yang satu ini lebih abu-abu lagi (Hahaha). Jadi, apa sebenarnya yang aku mau?

Sampai akhirnya aku sadar, bahwa salah satu alasan kenapa rasanya Aku stuck di posisi yang sama pada saat itu, adalah karena Aku terlalu takut. Sekalipun Aku tahu, apa yang ingin Aku lakukan pada saat itu, Aku terlalu nyaman dengan posisiku. Aku semakin sadar bahwa kehidupan yang sebenarnya memang sekejam hutan rimba. Aku harus terus bergerak agar bisa bertahan hidup, agar tidak ketinggalan dari yang lainnya--keluar dari zona nyaman. Kalimat ini benar-benar menggangguku setiap harinya. Aku harus keluar dari zona nyaman. Aku sadar, bahwa sudah saatnya Aku menemukan sisi diriku yang lainnya. Mencari tantangan baru dengan melakukan hal-hal diluar kebiasaanku sebelumnya, Aku perlu ke tempat-tempat baru, belajar hal-hal baru. Aku perlu melihat orang-orang baru lebih banyak lagi setiap harinya. Aku perlu jadi lebih baik lagi dari sebelumnya, Aku harus “berhijrah”.

Saat itu, tepat saat pembukaan pendaftaran Indonesia Mengajar. Aku pikir, kenapa tidak dicoba? Sepertinya cocok untukku yang sedang butuh tantangan baru, cara yang tepat buat menemukan jati diri. He he. Sepertinya seru, semacam KKN lagi, tapi lebih menantang. Intinya bisa ngabdi, Biar bisa lebih bersyukur. Begitu bersemangatnya Aku saat itu, entah mengapa Aku serasa menemukan calon mainan baru. Aku baru sadar, sepertinya salah satu hal yang rasanya selalu aku nikmati adalah sharing, mengajar, bermain. 
Lebih-lebih ketika aku sharing tentang hal ini ke salah satu sahabatku, he said that he saw something inside me which I never seen it in myself before. Dan jalan menuju ke sana adalah mengabdi—Lewat Indonesia mengajar adalah salah satu cara paling cocok untuk itu. Aku masih ingat sekali betapa excited nya aku hari itu. 

Sayangnya, Mama tidak setuju aku mendaftar. Singkatnya, tanpa negosiasi ba bi bu, Aku batal mendaftar. Kalau Mama sudah bilang "tidak" sejak awal, Aku tidak bisa memaksa. Aku yakin Mama selalu punya insting yang kuat tentang keselamatan anaknya.

Long story short, entah mengapa aku kepikiran, sepertinya Aku butuh ke Pare. Belajar Bahasa Inggris lagi, hitung-hitung nambah skor TOEFL, dan mungkin belajar IELTS. Satu hal yang lebih penting dari itu adalah tentang 'meninggalkan' Jogja yang sudah terlanjur nyaman bagiku. Terdengar seperti pelarian memang. Ya memang pelarian. Bagaimanapun Aku butuh lari dari kota tanpa harus pulang ke kampung halaman. Waktu aku minta izin, papa berulang-ulang bertanya kalimat yang sama, “Dilla betulan mau ke Pare? Pare itu beda sama Jogja, sama saja kayak Buol”. Aku hanya senyum-senyum meyakinkan papa saat itu. Aku memang ingin pergi dari Jogja.

Ternyata Allah membawaku pada jalan ini. Melalui salah satu sahabat baikku, Aku diajak mendaftar ke salah satu lembaga terbaik di Pare untuk program khususnya. Beasiswa belajar sekligus jadi pengajar di sana, dengan kontrak selama 9 bulan. Aku tidak hanya sekedar kursus, tapi nantinya bisa mengajar. Tentu saja, selain karena kesempatan mengajar itu, hal yang paling penting dan menarik buatku adalah bahwa semuanya gratis! 
Akhirnya, setelah melalui sejumlah rangkaian tes, bersaing dengan lebih dari 200 orang pendaftar, Aku akhirnya menjadi salah satu dari 29 orang yang terpilih. Alhamdulillah Aku tersesat di jalan yang benar (Aku harus menulis khusus cerita tentang ini nanti).

Selama hampir 2 bulan di Pare, (akhirnya) bertemu orang-orang yang baru, belajar lagi dengan rutinitas sehari-hari yang benar-benar baru, semakin membuatku sadar bahwa kita selalu butuh keluar dari zona nyaman. Bumi Allah terlalu luas, untuk kita hanya menetap di salah satu bagian kecilnya saja. Pada titik yang lain, bahkan di tempat yang sama pun, kita butuh untuk terus menemukan batasan-batasan baru dalam diri kita, agar kita bisa terus "berhijrah" menjadi semakin baik dari waktu ke waktu.

Pada akhirnya, hakikat "hijrah" yang sebenarnya adalah bagaimana semakin hari Aku berusaha memaksa diriku untuk mengingat-Nya, menyadari bahwa apa yang kita jalani adalah berdasar pada kehendak-Nya, maka libatkanlah Dia, memohonlah kepada-Nya, mendekatkan dirilah kepada-Nya.

​-Pare, Mei 2018
Share on:
  • ← Previous post
  • This blog provides you random things from my excessive thoughts. They could be my personal experiences, people around me, social issues, or anything! Hope you enjoy it!
  • Hi, I'm Dilla! 'Thanks for visiting my blog!
140x140

Retmi Ardilla

Author
Facebook Twitter Linkedin Youtube RSS
Labels
  • Personal
  • Politics
  • Story
  • Thoughts

Archives

Followers

latest comments

* * *

This blog contains stories, thoughts, and any random contents whether in such simply casual writings or formally written insights.
Facebook Twitter Flickr Linkedin Gplus Youtube

A Bowl of Meatballs

  • Home
  • About The Blog
  • Contact
Powered by Blogger.
Created By SoraTemplates | Distributed By MyBloggerThemes | Free Blogger Templates